Arsip | Sosial RSS feed for this section

Pemberdayaan UMKM di Indramayu

19 Jul

Perlu disadari peran UMKM sebagai bagian dari usaha yang dilakukan oleh masyarakat mempunyai signifikansi terhadap pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah, oleh karenanya diperlukan program pengembangan terhadap sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) untuk membantu keberlangsungan dan perkembangan dari UMKM tersebut. Sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap keberadaan UMKM sebagai salah satu pilar penting penggerak perekonomian khususnya di Kabupaten Indramayu, Yance Irianto, Bupati Indramayu saat itu menggulirkan program bantuan pengembangan UMKM seperti yang dilakukan terhadap pengerajin gitar mini di Desa Tamansari, Kecamatan Lelea.

Pemkab juga memberikan bantuan peralatan berupa mesin penggerak (Generator), lampu-lampu neon, kabel dan bahan bangunan. Bantuan tersebut dapat membantu untuk mengatasi kurangnya peralatan produk gitar mini dan peralatan produksi yang masih manual. Besarnya dukungan dari pemkab tersebut, karena Kang Yance menginginkan UMKM menjadi pilar penting untuk menggerakkan perekonomian di Kabupaten Indramayu.

Melalui pemberian bantuan ini diharapkan UMKM dapat berkembang dengan baik, dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Kabupaten Indramayu.

 

 

Perumahan Bagi Nelayan Indramayu

16 Jul

Semenjak beliau dipercaya untuk mempimpin Indramayu tahun 2000 lalu, Kang Yance (H. Irianto MS Syafiuddin) selalu memberikan perhatian yang besar terhadap infrastruktur pemukiman nelayan, mulai dari pembangunan jalan setapak, jalan lingkungan, gorong-gorong, hingga jembatan, telah dilakukan di berbagai kawasan pemukiman para nelayan. Langkah ini dilakukan karena Kang Yance menginginkan para nelayan yang menjadi tulang punggung produksi ikan tangkap di Indramayu bisa menikmati hidup lebih layak.

Setidaknya Kang Yance telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 7.7 milliar pada tahun 2007 untuk pembangunan 40 unit Rumah Sangat Sederhana (RSS) yang diberikan kepada nelayan secara cuma-cuma. Setiap kepala keluarga akan diberikan rumah berbentuk panggung dengan fasilitas dari kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi plus WC yang terletak di bawah. Di lokasi tersebut juga dibangun sarana olahraga, ibadah, serta infastruktur jalan.

Sikap yang ditunjukan Kang Yance ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggungjawab moral Kang Yance untuk mengentaskan masyarakat nelayan Indramayu menuju kehidupan yang lebih baik.

 

Rob & Mangrove di Indramayu

14 Jul

Tanpa disadari aktivitas yang dilakukan masyarakat pesisir Indramayu untuk membabat habis hutan mangrove menimbulkan bencana yang hampir setiap tahunnya selalu terjadi. Persepsi masyarakat tentang keberadaan hutan mangrove yang hanya menjadi sarang malaria merupakan anggapan yang salah kaprah, terbukti dari gundulnya hutan mangrove diwilayah pesisir Indramayu menimbulkan abrasi yang menelan banyak kerugian bagi masyarakat pesisi Indramayu.

Perlu peran serta dari masyarakat dan pihak terkaita, dalam hal ini adalah pemerintah kabupaten Indramayu dalam menyelamatkan akeberadaan hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai. Dikeluarkannya Perda Nomor 13 Tahun 2002 saat kepemimpinan H. Irianto MS Syafiuddin atau akrab disapa Kang Yance, bupati waktu itu menjadi sebuah solusi dalam rangka upaya pelestarian hutan mangrove diwilayah Kabupaten Indramayu.

Dengan program yang dipertegas dengan terbitnya Perda tersebut, Pemda Indramayu bersama dengan masyarakat dan menggandeng organisasi sosial masyarakat berusaha merehabilitas hutan mangrove dengan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL). Aktivitas antara lain : Pengembangan kelembagaan pada tingkat masyarakat melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi; Kegiatan penanaman meliputi penyiapan bibit; Penanaman dan pemeliharaan; pengamanan dan pemantauan serta evaluasi.

Hasil yang didapat dan dirasakan adalah kurangnya dampak akibat rob air laut sekaligus keseimbangan ekosistem lingkungan dimana hutan mangrove dapat menjadi tempat kembang biak ikan dan berbagai hewan laut lainya.

Program Pengentasan Kemiskinan

13 Jul

Pemberantasan kemiskinan saat masa kepemimpinan Kang Yance (H. Irianto MS Syafiuddin) di Kabupaten Indramayu tidak mudah karena terbelenggu faktor budaya yang membentuk pola kemiskinan kultural. Akibatnya, jumlah keluarga miskin terus bertambah, bahkan mencapai sepertiga dari total keluarga di kabupaten ini di dukung dengan budaya konsumtif masyarakat yang merupakan salah satu penyebab bertahannya angka keluarga miskin itu. Pola berpikir kreatif dan produktif belum banyak dimiliki warga Indramayu sehingga mereka cenderung bergantung pada alam, tanpa ada upaya lebih. Bagi mereka, tanpa modal, usaha produksi tidak bisa berjalan.

Untuk mengatasi hal tersebut Kang Yance mengupayakan berbagai program pemberantasan kemiskinan diantaranya adalah
– Pemberian bantuan kepada masyarakat miskin dan nelayan secara sistematis dalam rangka meningkatkan upaya mengurangi kemiskinan
– Penyelenggaraan bimbingan pendidikan luar sekolah bagi anak jalanan.
– Pemberian bea siswa bagi pelajar berprestasi dari keluarga tidak mampu dan nelayan
– Penyuluhan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu

Disamping itu untuk pemberantasan kemiskinan, Pemerintah Kabupaten Indramayu telah melakukan sejumlah program, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Bantuan langsung yang berbentuk Program Keluarga Harapan bertujuan memberi bantuan pendidikan dan kesehatan kepada keluarga miskin bersyarat. Selain itu, ada juga Yayasan Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat Keluarga Miskin yang kini memiliki dana berkisar Rp 14 miliar untuk membantu menyejahterakan keluarga miskin.

Bentuk pemberantasan kemiskinan secara tidak langsung adalah dengan penyediaan dana pendidikan dan pengobatan gratis, serta membangun infrastruktur jalan desa. Setidaknya adat sekitar 40 persen APBD Indramayu, Rp 1,2 triliun, untuk memberantas kemiskinan.

Inilah bentuk perhatian dan kepedulian Kang Yance terhadap rakyat yang kurang mampu di Kab Indramayu, bentuk pengabdian dan totalitas beliau dalam mengentaskan kemiskinan di Indramayu yang patut mendapat acungan dua jempol 🙂

 

Kabupaten Indramayu & Banjir

10 Jul

Kabupaten Indramayu memang merupakan sebuah wilayah yang terletak di kawasan Pantura Jawa Barat yang memiliki panjang pantai 114 km dengan pulau-pulau kecil. Selain itu, sebagian besar wilayah Indramayu merupakan daratan rendah serta berada pada bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk dan Cipunegara, hingga kabupaten ini memiliki sumberdaya air yang cukup baik untuk pertanian dan perikanan. Tetapi pada musim penghujan kabupaten ini juga tak luput dari bencana banjir yang sering menerjang daerah-daerah pertanian dan pemukiman di Indramayu, Jabar.

Kondisi seperti ini tentu berimplikasi pada terciptanya permasalahan di masyarakat. Permasalahan tersebut bagi Kang Yance selaku Bupati Indramayu tentu tidak boleh dibiarkan kuasa alam itu membuat sengsara rakyatnya. Ia menggulirkan program penanggulangan bencana alam dengan mengeluarkan Keputusan Bupati Indramayu Nomor : 360.05/Kep.445-Kesra/2004 yang membentuk Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi Kabupaten Indramayu. Berkat program ini dampak dari bencana alam yang selama ini sering menghantui masyarakat Kabupaten Indramayu dapat di tekan dan setidak-tidaknya mampu meringankan beban masyarakat Kabupaten Indramayu Jawa Barat yang terkena musibah bencana alam

 

KB dan Kesejahteraan

9 Jul

Keberhasilan Program KB di Kabupaten Indramayu tidak lepas dari peran Bupatinya, sejak awal komitmen Kang Yance (Bupati Indramayu 2000-2010) selalu ingin mensejahterakan rakyatnya, hal itu pula yang membawanya untuk memajukan kejesahteraan keluarga lewat program KB. Salah satu manfaat program KB untuk keluarga adalah “meningkatkan kesejahteraan keluarga”. Dimana dengan melakukan pengaturan banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi keluarga. Demikian juga yang terjadi di Indramayu dengan moto religius, maju, mandiri, dan sejahtera (Remaja), Kabupaten Indramayu berhasil menekan laju pertumbuhan penduduknya, hal itu demi meningkatkan kesejahteraan penduduk.

Melalui peran KB yang terus ditingkatkan dalam masa kepemimpinan Kang Yance (2000-2010), tingkat kesertaan ber-KB di Kabupaten Indramayu dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan meningkat baik secara relatif maupun jumlah nyata. Jumlah akseptor pada tahun 2001 mencapai 216.622 pasangan dari pasangan usia subur sebanyak 316.349 orang, pada tahun 2007 telah meningkat menjadi peserta KB aktif sebanyak 290.311 (78,34%) dari pasangan usia subur 370.591 pasangan. Usaha beliau tersebut berbuah penghargaan, Kang yance dianugerahi penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, Manggala Karya Kencana atas keberhasilan dalam pelaksanaan Program KB Kabupaten Indramayu.

 

 

 

Nasib Nelayan; dihimpit, dijepit diberbagai sisi

5 Jul

Kesulitan mengimbangi pendapatan dan pengeluaran yang digunakan untuk melaut menjadi pokok persoalan yang terus menerus menghatui para nelayan. Kesulitan itu membuat nelayan tak lagi mencari penghasilan di laut, perahu hanya cukup diparkirkan di tepian sungai alias “lego jangkar”. Di Indramayu, nelayan pun mulai alih profesi, ada yang menjadi kuli angkut di TPI, buruh tani, buruh tambak udang atau ikan bandeng, sampai ada yang menjadi pemulung. Semua dilakukan nelayan untuk bisa bertahan hidup. Hasil dari alih profesi pun hitungannya tetap tak seberapa, sebab hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan sehari-hari.

Ya begitulah kiranya gambaran nelayan Indramayu saat kenaikan BBM beberapa waktu yang lalU. Pemerintah sepertinya tidak mendengar jeritan para nelayan yang tengah terhimpit dan dijepit dari berbagai sisi. Sebut saja BBM yang merupakan nyawa bagi perahu nelayan dan kejaran rentenir yang terus menghantui mereka.

Boro-boro untuk biaya sekolah anak. Sudah sebulan sejak harga BBM naik banyak nelayan yang menahan akanya untuk tidak bersekolah. Jangan Tanya soal kebutuhan lain-lain di kalangan nelayan tradisional, bisa makan saja sudah untung. Disamping itu faktor alam juga sangat mempengaruhi kehidupan nelayan, meskipun masih bisa melaut tetapi hasilnya pun hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari

Kenaikan BBM menjadi biag keladi merosotnya kualitas kehidupan nelayan tradisional, bayangkan BBM naik dipastikan sembako juga naik, biaya berlayarpun juga pasti akan naik. Ditengah suasana yang serbasulit dan getir nelayan mengharapkan bantuan dari pemerintah dalam wujud apapun itu yang pasti bisa membuat ekonomi keluarga mereka berjalan.

Laut Jawa tak bisa lagi memberikan harapan, kecuali mimpi yang kini terkubur dalam-dalam, tertimbun keluh-kesah kesibukan mereka untuk bisa sekedar bertahan dari tekanan hidup sehari-hari.