Tag Archives: Sunda

Kampung Sampireun Garut

9 Agu

Kampung Sampireun Garut

Kampung Sampireun Garut, Jawa Barat dengan keindahan alami nya mampu menunjang industri wisata di Garut, lokasinya yang terletak diDesa Sukakarya, Kecamatan Samarang akan memanjakan pengunjung dengan suasana pedesaan yang begitu kental.

begitu sampai disini satu jam perjalanan dari Bandung tidak akan terasa. Keeindahan danau seluas 1,4 hektare, hijaunya pepohonan, dengan rumah-rumah dari bambu yang dibangun begitu dekat dengan bibir danau menjadi pemandangan pertama begitu tiba di lobi kawasan pariwisata ini. Bambu, kayu, dan hijaunya alam memang menjadi unsur dominan desain di dalam dan luar pondok-pondok yang disebut cabana dan lanai.

Tak hanya bisa melihat keindahan alamnya, sensasi menyeberangi danau menggunakan sampan juga menjamin setiap pengunjung betah berlama-lama disini. Makanan khas Sunda yang selalu disajikan disini juga menambah mantap jadwal wisata.

Kampung Sampireun Resor dibangun di antara taman yang dikelilingi pepohonan bambu, yang membuat lingkungan terasa lengang tapi nyaman. Tempat peristirahatan ini didesain dengan nuansa kampung tradisional Sunda.

Di Kampung Sampireun Garut pada saat pagi hari pengunjung akan disuguhi berbagai jajanan tradisional Sunda yang dijajakan dari perahu oleh pengelola kampung.

Seni Sisingaan dari Subang

25 Jul

Jawa Barat atau Sunda memang kaya akan tradisi budaya dan kesenian, tak ayal berbagai sanggar seni dan grup senipun tumbuh berkembang melestarikan kebudayaan yang dilupakan generasi sekarang. Seperti halnya grup sisingaan yang merupakan kesenian khas sunda salahsatu tradisi yang cukup populer di Subang.

Group seni sisingaan ini terdiri dari 4 orang pengusung sisingaan, sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra, nayaga, dan sinden. Secara filosofis 4 orang pengusung sisingaan mengandung arti masyarakat pribumi yang tertindak kaum penjajah, sepasang sisingaan melambangkan penjajah, sedangkan penunggang sisingaan melambangkan generasi muda yang siap mengusir penjajah, nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira, atau memberikan motivasi kepada generasi muda untuk dapat mengalahkan penjajah.

Layaknya sebuah tradisi kesenian rakyat, Sisingaan ini penuh dengan aura kegembiraan dan suka cita, ini terlihat dari gerakan nya yang dinamis dan energik. Dalam perkembangannya kesenian Sisingaan ini menjadi seni yang biasa dipertunjukkan untuk menghibur anak dikhitan. Hajatan ini biasanya digelar sebelum atau sesudah seorang anak dikhitan. Bahkan, bisa juga pada suatu waktu ketika orangtuanya memang sedang berlimpah rejeki. Sisingaan ini bukan saja sebuah acara milik satu keluarga, melainkan bisa menjadi sebuah acara kolektif yang melibatkan lebih dari dua atau tiga orang anak dari keluarga yang berbeda. Artinya, ketika ada salah satu keluarga yang mengundang grup Sisingaan untuk pesta khitanan anaknya, maka keluarga lain boleh “menitipkan” anaknya untuk ikut ditandu grup sisingaan.

Melihat pertumbuhan dari grup sisingaan yang terus bertambah dan antusiasme warga yang turut melestarikan kesenian ini tradisi ini kedepan kesenian sisingaan ini masih akan tetap eksis. Harapan ini muncul terlihat bertambahnya ratusan grup sisingaan yang tersebar di Kabupaten Subang.Tradisi ini juga terus didorong agar menjadi ciri khas kesenian di Jawa Barat. SUMBER : www.jawa-barat.com

Seni Tarawangsa Asli Sumedang

24 Jul

Jawa Barat memiliki khasanah budaya yang cukup kaya, khususnya kebudayaan Sunda yang masih dilestarikan hingga kini, salahsatunya adalah Kesenian Tarawangsa dapat ditemukan di Rancakalong, Sumedang. Tarawangsa sendiri adalah alat musik sederhana dari nenek moyang, berbentuk seperti rebab, dengan dua buah kawat untuk digesek. Awalnya digunakan dalam acara Ormatan, hiburan para petani untuk merayakan syukuran panen. Tarawangsa memiliki dua pengertian, pertama adalah alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja ataupun besi. Kedua, merupakan nama dari salah satu jeni musik tradisional khas Sunda.

Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.Tarawangsa punya dua kawat sebagai perlambang Sang Pencipta selalu menciptakan makhluk berpasang-pasangan. Sedangkan jentreng berdawai tujuh. Bila seluruh digabung jumlahnya sembilan sama dengan jumlah wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Kesenian ini menggambarkan bahwa musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai media menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya.

Kesenian yang disertai dengan ritual dari Rancakalong membawa pesan-pesan dalam hubungan manusia dengan alam. Penghormatan kepada sesatu yang gaib menyiratkan pesan bahwa ada keseimbangan alam semesta harus dijaga. Ucapan syukur atas hasil panen menggambarkan,kita sebagai mahluk hidup tidak boleh lupa akan kehadiran Yang Maha Esa dalam setiap apa yang kita peroleh.

Dalam pertunjukan Tarawangsa ini pemain biasanya terdiri terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain Tarawangsa dan satu orang pemain Jentreng. Semua pemain Tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 35 – 60 tahunan.Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula penari laki-laki yang kemudian disusul dengan penari perempuan. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya (orang-orang yang menari) pada keadaan alam bawah sadar hinggatrance (tak sadarkan diri). Hingga saat ini pun masyarakat Rancakalong selalu menyajikan seni tarawangsa pada setiap upacara-upacara tradisinya, terutama upacara yang berkaitan dengan mitos Dewi Sri. Sumber : www.jawa-barat.com

Kesenian Gaok khas Majalengka

19 Jul

Kesenian “ Gaok “ apabila  diamati dalam cara penampilannya merupakan seni tradisional yang telah mengalami singkritisme antara nilai-nilai budaya etnis sunda buhun dan budaya bernuansa islam yang dibawa dari cirebon. Misalnya dapat diamati ketika dalam pertunjukan, ternyata selalu diawali dengan bahasa sunda, tetapi gayanya terkadang seperti orang yang sedang mengumandangkan adzan, kemudian busana yang dikenakan para pemainnya adalah busana sunda.

Seni ini mulai ada dan berkembang di majalengka di perkirakan sejak setalah masuknya Agama Islam di wilayah Kabupaten Majalengka yaitu sekitar abad ke 15 ketika pangeran Mehammad berusaha menyebarkan ajaran islam, yang dilaksanakan sebagai upaya yang dipandang strategis dalam dakwah islam. Hingga sekarang seni tradisonal Gaok masih ada yaitu yang dikembangkan di desa Kulur Kecamatan Majalengka oleh seorang seniman bernama Sabda Wangsaharja sejak sekitar tahun 1920.

Kesenian tersebut termasuk seni sastra jenis “ mamacan “ (membaca tekx) atau juga disebut wawacan singkatan dari wawar ka anu acan (memberitahu kepada yang belum mengetahui), yang disuguhkan tanpa penggung pada acara seperti keperluan ritual atau upacara adat yang umumnya dilaksanakan ketika  “ ngayun “ (acara kelahiran bayi ) dengan cara memaparkan cerita seperti Babad Cirebon yang dilantunkan melalui vokal para pemain yang berjumlah antara empat hinga enam rang bahkan mungkin lebih, dengan busana berupa kampret/ toro lengkap dengan ikat kepala, sipimpin oleh seorang dalang/pengawawit dan juru mamaos, diatur berdasarkan urutan; (1) tatalu; (2) lalaguan dan (3) tarian; serta (4) pertunjukan. Adapun alat musik yang digunakan adalah (1) Gong Buyung dan (2) Kecrek dari Bambu. Durasi pemain biasanya berlangsung semalam suntuk. Sekarang durasinya hanya sekitar dua jam saja, dimana para pemainnya secara bergantian melantunkan tembang dengan suarayang keras sehingga dinamakan ‘ Gaok “ yang diambil dari kata “ ngagorowok “ (berteriak) dengan bentuk pupuh atau kakawen.

Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka saat ini dipimpin oleh E. Wangsadiharja, tersebar hingga ke beberapa desa Kecamatan Majalengka dan Cigasong. Sebelum kesenian Gaok dimulai diadakan upacara “ susuguhan “ (memberikan sesajen kepada para leluhur) berupa makanan dan minuman sisertai pembakaran kemenyan.

Menurut kurun waktu nya seni Gaok terbagi dua macam, yaitu (1) Buhun yang mengisahkan zaman dahulu dan; (2) Galur yang mengisahkan kehidupan manusia pada zaman sekarang.

Ragam Kecapian Majalengka

18 Jul

KECAPIAN

Kecapian merupakan bentuk kesenian yang menggunakan kecapi sebagaiwaditra utama. Di Majalengka tumbuh berbagai ragam bentuk bentuk seni kecapian, antara lain Kecapi Suling, Kecapi Cemplungan, Kecapi Jejaka Sunda, Kecapi Pantun, dan Kecapi Kalaborasi. Berikut disajikan deskripsi tentang keenam ragam seni kecapian sebagai bagian dari kesenian Sunda tersebut.

1. Kecapi Suling

Kecapi suling yang berkembang di Majalengka terdiri atas Kecapi tembang dan Kecapi Kawih.

1. Kecapi Tembang

Kecapi suling merupakan bentuk kesenian yang memadukan waditra suling. Fungsi kecapi dan suling pada kesenian ini adalah sebagai pengiring lagu-lagu berbentuk tembang dan kawih.

Seni kecapi suling yang mengiringi tembang dikenal dengan Tembang Sunda,. Pada kesenian ini, terdapat dua buah kecapi sebagai pengiring, yaitu kecapi indung dan kecapi rincik. Biasanya kecapi indung disebut juga kecapi perahu sebab bentuknya seperti perahu. Kadang-kadang disebut jugakecapi gelung karena pada kedua ujungnya berbentuk gelung wayang (mahkota). Jumlah kecapi indung ada 18 yang terbuat dari bahan kuningan. Sedangkan suling yang dipergunakan dalam tembang sundaadalah suling berlubang enam yang dapat berfungsi menghasilkan beberapa laras, seperti pelog, madenda (sorog), dan salendro. Khusus untuk tembang yang berlaras salendro biasanya rebab digunakan untuk menggantikan fungsi suling.

Pemain kecapi suling pada tembang sunda terdiri atas seorang pemain kecapi indung, seorang pemain kecapi rincik, seorang peniup suling, dan juru mamaos baik wanita maupun pria. Lagu-lagu atau tembang yang dibawakan dalam tembang sundaterdiri atas empat golonganlagu, yaitu Rarancagan, Papantunan, dedegungan, dan Jejemplangan. Keempat golongan lagu itu termasuk kedalam sekar irama merdika yaitu lagu yang tidak terikat birama. Untuk melangkapi penyajian tembang irama merdika tersebut, biasanya disajikan penambih (lagu tambahan) berupa kawih. Kawih yang disajikan sebagai penambih ini berbentuk sekar tandak, yaitu lagu yang terikat birama, sehingga iringannya terdengar beraturan.

Para pemain kecapi seling tembang sunda berpakaian taqwa dengan warna seragam, memakai bendo, dan berkain panjang. Sedangkan juru mamaos wanita mengenakan kebaya dengan sanggul dan hiasan lainnya.

Di Majalengka tembang sunda dikembangkan oleh para seniman yang pernah mendapat pendidikan tembang sunda dari daerah periangan, baik melalui penataran atau pelatihan, maupun melalui pendidikan sekolah (SMK dan STSI). Tokoh-tokoh seniman yang berjasa mengembangkan tembang sunda diwilayah Majalengka antara lain Samsuri, E. Kusnadi, Oyo Suharja, Amin Choeruman, dan Soni Supriatna. Walaupun tidak melalui pendidikan khusus, di majalengka lahir beberapa orang juru mamaos wanita yang turut meramaikan khasanah tembang sunda, antara lain Titin Supartini, Tati, Lia Marliani, dll.

2. Kecapi Kawih

Kawih adalah bentuk karawitan sekar (vokal) yang terikat oleh birama atau ketukan. Kecapi untuk mengiringi kawih berbeda dengan kecapi pengiring tembang. Kecapi yang digunakan untuk mengiringi kawih ini adalah kecapi siter dengan julah kawat 20. Biasanya menggunakan satu atau dua buah kecapi. Jjika menggunakan dua buah kecapi, salah satu di antaranya berfungsi sebagai kecapi indung dan yang lainnya sebagai rincik. Suling pada kecapi kawih ini berfungsi sebagai lilitan lagu yang kadang-kadang tempatnya digantikan oleh rebab sesuai dengan kebutuhan lagu. Vokalis pada kesenian ini disebut juru sekar atau juru kawih.

Kesenian ini biasanya tampil menghibur dalam berbagai acara, baik acara seremonial biasa maupun acara-acara hajatan. Hingga saat ini dikenal beberapa pelaku seni kecapi kawih yang andal di Majalengka, di antaranya E. Kusnadi, Oyo suharja, Wasman Rukmana, Daryono, Risnandar, Soni Supriatna (suling dan rebab), Aceng Hidayat (suling), Dede Carmo, Rasma Sudrajat, dan Dadang.

Kesenian kecapi kawih saat ini juga dikembangkan melalui media radio, yaitu melalui siaran Haleuang Pasundan di Radika 100,3 FM Majalengka oleh Group Panghegar. Kelompok seni kawih lainnya antara lain Manik mekar Saputra (Cigasong), tandang Midang (Munjul), dan Kania Setra (Maja).

2. Kecapi Cemplungan

Waditra yang digunakan pada kecapi cemplungan bukan hanya kecapi dan suling, akan tetapi ditambah dengan waditra lain lain sepeti gendang dan gong. Penyajian musik pada jenis kesenian ini terasa lebih lengkap karena beberapa waditra yang berneda dibunyikan dalam suatu sajian yang harmonis. Lagu-lagu yang dibawakan adalah sekar tandak atau kawih. Pada kecapi cemplungan ini, rebab lebih banyak difunsikan jika lagu-lagu dibawakan dalam laras salendro. Untuk menambah daya tarik kepada penonton, penyajian kecapi cemplungan kadang-kadang ditambah pula dengan penari jaipongan, karena musik yang dibawakan melalui kecapi cemplungan memungkinkan tampilnya penari jaipongan melalui lagu-lagu yang selaras.

Group-group kesenian yang siap menampilakan seni cemplungan antara lain Manik Mekar Saputra, Sanggar Panghegar, Tandang Midang, dan Kania Setra.

3. Kecapi Jejaka Sunda

Kecapi jejaka sunda merupakan jenis seni kecapian yang menyajikan lagu-lagu yang jenaka atau luca dalam irama bebas. Jenis kecapian yang digunakan adalah kecapi siter. Pelakunya tediri atas seorang pemain kecapi yang berpera juga sebagai penyanyi ditambah dengan seorang atau dua orang pemain yang semuanya memiliki kemampuan lagu-lagu jenaka.

Kecapi jenaka sunda di Majalengka dikembangkan pada waktu kelompok kesenian PG Kadipaten (tahun 1970-an) masih aktif, dengan seorang dalangnya yang kreatif yaitu Edi Jubaedi. Pemain lainnya yang terkenal adalah Abah Duleh, Abah Bontot, Mang Uu Wahyu, dan Mang Pentil. Generasi berikutnya adalah Karjo, Iwan Abok, Casma (Mang Cemeng), Ikin Sodikin (Mang jangkung).

Pada saat sekarang, kecapi jenaka sunda meskipun jerang sekali ditampilkan dapat dipesan melalaui group Mustika Budaya (Cigasong) dan Tandansg Midang (Munjul).

4. Kecapi Pantun

Kecapi Pantun merupakan sajian kecapian sebagai mendia pengantar atau pengiring ketika sang juru pantun membawa cerita. Pengertian pantun secara harfiah menurut Saleh Danasasmita adalah  “ cerita, balada, dongeng atau sejarah masa silam, umumnya mengenai kerajaan Pajajaran (dibawakan dengan nyanyian, diiringitarawangsa atau kecapi). (Saleh, 1974). Sedangkan menurut para juru pantun merupakan wancahan atau singkatan dari kata papan nu jadi panungtun. Artinya melalui cerita pantun penonton atau pendengar mendapat tutunan hidup.

Kesenian pantun merupakan jenis kesenian yang didukung oleh unsure-unsur seni sastra dan karawitan. Unsur sastra tampak pada cerita pantun yang dibawakan. Cerita pantun yang semula hanya merupakan cerita lisan. Sekarang sudah banyak yang ditulis berupa buku. Unsur seni karawitan tampak pada iringan widatra kecapi yang dipetik selama pertunjukan pantun dilaksanakan.

Karakteristik penyajian pantun secara tradisional adalah :

  1. Pelaku kesenian ini hanya 1 orang.
  2. sebelum pergelaran dilakukan upacara berupa penyiapan sesajen (sesaji) dan membaca mantra oleh juru pantun sambil membakar kemenyan.
  3. kecapi yang digunakan adalah kecapi indung, atau kecapi biasa dengan jumlah kawat 18 buah.
  4. hingga sekarang masih dianggap sebagai kesenian yang sakral.

Karakteristik pertama bahwa pelaku pantun hanya 1 orang, ini senada dengan penuturan Ajip Rosidi (1983 32) bahwa di daerah Cirebon peruntunjukan pantun hanya dilakukan oleh seorang juru pantun, tanpa teman main lainnya. Namun kenyataan kemudian menunjukkan bahwa upaya survive agar pantun tetap digemari maka pada kesenian ini ditambahkan waditra lain, seperti piul (biola), seorang sinden, dan bahkan gamelan, sehingga pertunjukan pantun tidak ubahnya pertunjukan wayang catur (cerita wayang tanpa wayang) (Ajip Rosidi, 1983 33).

Sesuai dengan jiwa sakralitas yang diusungnya, kesenian pantun selain dipertunjukkan untuk keperluan tontonan, digunakan juga untuk keperluan ruwatan. Tatakrama ruwatan dan kelengkapan Iainnya tidak berbeda dengan acara ruwatan yang dilaksanakan menggunakan kesenian wayang (golek maupun kulit).

Pada umumnya, alur cerita dimulai dengan Rajah Pamuka, diteruskan dengan mangkat carita, nataan karajaan dan para tokoh cerita, selanjutnya bercerita. Pada akhir cerita ditutup dengan melantunkan lagu Rajah Pamunah atau Rajah Penutup.

Cerita-cerita pantun yang terkenal antara lain Mundinglaya Di Kusumah, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Nyi Sumur Bandung, Jaran Sari, Raden Deudeug Pati Jaya Perang, Panggung Karaton, Demung Kalagan, Nyi Pohaci Sanghiang Sri, dll.

Tokoh-tokoh atau jurupantun terkenal dari Majalengka adalah

  1. Saein dari Kelurahan Tonjong;
  2. Sidik dari Bantarjati;
  3. Warwa dari Desa Jatitujuh;
  4. Maun dari Pasir
  5. Nadi dari Desa Kutamanggu;
  6. Baedi dari Desa Kadipaten;
  7. Kusma dari Desa Kadipaten;
  8. Cecep dari Desa Waringin;
  9. Rasim dari Desa Mandapa;
  10. Iwan Ompong dari Desa Bojong Cideres.

Dari kesepuluh orang jurupantun di atas, yang masih hidup adalah Cecep, Rasim, dan Iwan Ompong. Ketiganya sudah berusia cukup lanjut. Karena itu perlu ada upaya regenerasi agar kesenian ini tidak mengalami kepunahan.

5. Kecapi Kolaborasi

Kecapi kolaborasi dikembangkan oleh para seniman muda Majalengka seperti Oyo Suharja dan kawan-kawan. Pada kesenian ini waditra yang digunakan adalah, kecapi siter, gitar akustik, cuk, gitar bas, biota, ruling, gendang, dan gong. Jumlah pernain musik yang, terlibat di dalamnya mencapai

sepuluh orang, yang masing-masing memegang alat musik y.iii{j berbeda. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu kowlli Sunda, lagu-lagu pop Sunda, dan bahkan mampu mengiriiigi

lagu-lagu Indonesia Populer.

Di dalam penyajiannya, para pemusik tidak duduk bersila sebagaimana kesenian Sunda lainnya. Kecapi yang digunakan disimpan di atas sebuah standar sehingga pemain

kecapi dapat memainkannya sambil duduk di atas kursi. Demikian pula dengan, pemain musik lainnya. Jumlah penyanyi atau juru sekar pada kesenian ini dapat lebih dari satu orang.

Kecapi kolaborasi di Majalengka pertama kali diperkenalkan pada waktu Gelar Seni Tradisi 1 tanggal 26 Desember 2004. Sanggar Panghegar (Radika FM Majalengka) pimpinan Wasman Rukmana adalah satu-satunya kelompok kesenian yang menyajikan jenis kesenian ini.

Asal Usul Tari Jaipong Jawa Barat

10 Jul
Indonesia Memang Akan Kaya Khasanah Budaya Bangsa yang dilahirkan dari Nenek Moyang Kita salah satunnya adalah Jenis Kesenian atau tarian di Jawa Barat Yakni Tari Jaipong.
Pengertian Tari Jaipong
Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.
Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.
Sejarah Tari Jaipong
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.
Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantura Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat. SUMBER :  http://www.lokerseni.web.id

Berwisata di Saung Angklung Udjo

5 Jul
Saung Angklung Udjo didirikan pada tahun 1967 oleh Mang Udjo dan istrinya, Uum Sumiati Udjo. Di tempat inilah kesenian musik Angklung dilestarikan. Nama Udjo sendiri diambil dari nama pendiri sekaligus pemilik tempat ini. Berdirinya padepokan ini juga tidak lepas dari bantuan dan dorongan Bapak Daeng Soetigna, seorang tokoh angklung yang juga merupakan guru dari Mang Udjo.
Angklung adalah sejenis alat musik yang terbuat dari bahan bambu yang mempunyai suara dan irama yang khas. Angklung merupakan gabungan dari beberapa instrumen yang terdiri dari pipa bambu dengan ukuran yang berbeda-beda dan ditempatkan di suatu bingkai yang kecil dan diguncangkan untuk mengeluarkan bunyi.
Selain tempatnya yang sangat khas dengan ornamen yang serba bambu, tempat ini juga dikelilingi rumah-rumah penduduk. Saung Angklung Mang Udjo menawarkan daya tarik wisata dengan menampilkan pertunjukan angklung dan demonstrasi berbagai kesenian Sunda lainnya yang dibawakan oleh kelompok anak-anak setempat. Datang dan nikmati pagelaran serta pelajari cara memainkan Angklung di tempat istimewa ini, yang selalu siap menyambut dan memberi ruang apresiasi bagi setiap Anda dan pengunjung lainnya. Jangan lewatkan pula melihat proses pembuatan alat musik angklung, yang sama menariknya dengan menonton pertunjukan itu sendiri.  (sumber: www.disparbud.jabarprov.go.id)
Lokasi:  Jl. Padasuka No. 118, Bandung 40192
Koordinat : 6° 53′ 48″ S, 107° 39′ 17″ E
Telepon: (022) 7271714
Email: info@angklung-udjo.co.id
Arah:  Dapat dicapai dengan menggunakan angkutan umum ke arah terminal Cicaheum dan berhenti di pertigaan Jalan Suci – Jalan Padasuka, kemudian naik ojeg menyusuri  Jalan Padasuka.
Fasilitas: Tempat parkir yang luas, restoran